Rabu, 07 Oktober 2009

Pengurangan Subsidi Pupuk di APBN 2010: Sebuah Peluang Bisnis Bagi Petani. Benarkah?

Pengurangan Subsidi Pupuk di APBN 2010: Sebuah Peluang Bisnis Bagi Petani. Benarkah?

Posted: 28 Sep 2009 08:39 PM PDT

Jujur saja, agak berat bagi saya mencari korelasi rencana pengurangan subsidi pupuk pada APBN 2010 dengan sebuah peluang. Yakni, mengungkap celah dari kenyataan itu sebagai sebuah peluang bisnis bagi petani.

Sebagian anda saja, mungkin masih bingung dengan apa yang saya maksudkan. Bukan maksud saya merendahkan pemahaman anda. Bukan, sama sekali bukan. Saya tak pernah meragukan pemahaman anda. Hanya saja, soal yang satu ini, soal berbicara tentang nasib petani, adalah soal minat dan perhatian. Tak banyak orang yang berminat kalau sudah berbicara masalah petani dan pertanian.

Tapi, mudah-mudahan saja, dugaan saya salah.

Oke lah. Anda mungkin sudah dengar, bahwa akan ada pengurangan subsidi pupuk anorganik sebesar Rp. 6 - 10 triliun pada tahun 2010 dari Rp. 17,5 triliun pada tahun 2009. Cukup signifikan bukan? Apa sih alasan pemerintah melakukan pengurangan subsidi pupuk tersebut?


Yaaa..., menurut saya, alasan pemerintah cukup rasional dan pantas. Selisih harga yang cukup besar antara pupuk bersubsidi dan pupuk nonsubsidi selama ini, menjadikan pedagang menyelewengkan penjualan pupuk bersubsidi tersebut. Akhirnya, subsidi pupuk tersebut banyak yang tidak dinikmati petani. Bayangkan saja, misalnya harga pupuk Urea tahun 2009 ini, yang nonsubsidi (atau harga ideal) Rp. 3.000,-/kg, sedangkan yang bersubsidi Rp. 1.600,-/kg.

Cuma, diluar disparitas harga tersebut, sisi lemah tentu saja ada. Mekanisme pemerintah, dalam mendistribusikan pupuk bersubsidi selama ini, juga belum sepenuhnya maksimal. Menurut beberapa sumber, data tentang petani yang benar-benar pemilik perkebunan rakyat yang dimiliki pemerintah pun tidak akurat. Sehingga, tidak diketahui secara tepat data tentang kebutuhan pupuk yang sebenarnya.

Sudahlah itu. Sekarang, mari kita lihat peluang dari rencana pengurangan subsidi pupuk tersebut. Berkurangnya subsidi pupuk anorganik, tentu akan berimbas pada meningkatnya kebutuhan akan pupuk organik. Nah, ada yang melihat ini sebagai peluang bisnis bagi petani. Bukankah kebutuhan utama untuk pembuatan pupuk organik tersebut ada pada petani kita. Misalnya, mulai dari kotoran ternak, urin sapi, sampai kepada bahan pembuatan kompos, semuanya ada pada petani. Cuma, sejauh mana petani kita dapat melihat hal ini sebagai peluang bisnis? Adalah pertanyaan yang butuh penyelesaian yang panjang.

Kita tidak sedang mencoba merendahkan pemahaman petani kita soal bisnis. Justru kita sedang mencoba menaruh peduli akan kondisi petani kita. Saya yakin, sebagian besar petani kita tidaklah dapat melihat celah bisnis dari pengurangan subsidi pupuk tersebut. Kalaulah sudah demikian keadaannya, sebuah pekerjaan lagi yang mesti dilakukan. Yakni, memberikan pemahaman tersebut.

Pemahaman juga tidak bisa berhenti sebatas pemahaman saja. Pemahaman mesti pula diikuti dengan penyediaan sarana dan prasarana. Setidaknya, mesti ada infrastruktur pertanian yang menunjang perencanaan tersebut, seperti pabrik pupuk organik misalnya. Kalau tidak, kemana bahan-bahan pembuatan pupuk organik tersebut akan dijual oleh petani agar menjadi penghasilan bagi mereka.

Beruntung, pemerintah kita juga sudah memikirkan hal itu. Dan, di beberapa daerah, saya melihat, ada beberapa lembaga yang katanya merupakan “Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyak” yang bekerjasama dengan PT. PUSRI untuk produksi pupuk organik ini. Bahan-bahannya akan mereka beli langsung kepada para petani.

Namun, diantara harapan-harapan tersebut, tetap saja ada celah bagi kambuhnya penyakit lama bangsa ini. Menipu bangsa sendiri. Tidak tertutup kemungkinan, yang kita harapkan adalah peluang bisnis bagi petani, ternyata hanya peluang yang dimanfaatkan untuk keuntungan segelintir atau sekelompok orang. Petani kita, tetap nasibnya begitu-begitu saja. Pertanyaan yang muncul kemudian; benarkah ini merupakan peluang bisnis bagi petani?

Setakat ini, memang, kita harus memandang optimis atas rencana tersebut. Namun, perencanaan yang matang dan benar-benar berangkat dari hati nurani untuk meningkatkan kesejahteraan petani adalah sebuah kemestian. Peluang-peluang penyelewengan oleh segelintir orang haruslah ditutup serapat mungkin. Agar rencana ini berjalan sebagaimana yang diharapkan.


Selasa, 06 Oktober 2009

Indonesia, Wilayah Rawan Gempa

Indonesia, Wilayah Rawan Gempa
Sejarah Gempa dan Tsunami di Jawa Timur
Setiap kepala daerah di pantai selatan Jawa Timur diminta meningkatkan kewaspadaan.
Rabu, 7 Oktober 2009, 08:04 WIB
Heri Susanto
Peta zona rawan gempa Jawa Timur (vsi.esdm.go.id)

VIVAnews - Mengantisipasi terjadinya gempa di wilayah pesisir selatan Jawa Timur, Gubernur Jawa Timur Soekarno terus berupaya melakukan tindakan dan antisipasi bila ternyata benar prediksi Jawa Timur sebagai salah satu daerah yang rawan tsunami.

Soekarwo bukan saja melakukan langkah preventif diantaranya memasang 23 alat early warning system (EWS) atau alat deteksi dini yang ditempatkan di gunung dan laut, namun Gubernur juga telah mengirimkan radiogram ke seluruh kabupaten/kota beberapa hari lalu.

Isinya, berupa himbauan agar setiap kepala daerah terutama di pantai selatan Jawa Timur meningkatkan kewaspadaan. Melakukan sosialisasi ke masyarakat, mengintensifkan langkah preventif untuk menghindari banyak jatuh korban akibat bencana.

Jika mengacu pada sejarah gempa di Jawa Timur yang disebutkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, propinsi ini juga merupakan wilayah langganan gempa dengan jarak waktu yang berbeda-beda, dari tujuh tahun hingga belasan tahun.

Dari belasan kali gempa selama dua abad, Jawa Timur juga beberapa kali mengalami gempa besar, bahkan menimbulkan tsunami sehingga memakan korban dalam bilangan tak sedikit. Itu pernah terjadi di Trenggalek dan Banyuwangi.

Misalnya, gempa yang terjadi di Blitar-Trenggalek pada 37 tahun lalu, tepatnya pada 4 Oktober 1972 dengan kekuatan 6 skala Richter dan skala intensitas gempa sebesar V-VI MMI.

Gempa ini menimbulkan kerusakan sejumlah bangunan di Gandusari & Trenggalek. Goncangan terasa kuat sehingga mengakibatkan 250 orang meninggal, 127 orang hilang, 423 luka, 1.500 rumah rusak, 278 perahu rusak dan hilang. Gempa ini juga menimbulkan terjangan tsunami dengan ketinggian gelombang belasan meter dan terjangan ombak hingga mencapai 500 meter dari pantai.

Berikut sejarah gempa Jawa Timur yang dikutip VIVAnews dari Pusat Vulkanologi Departemen Energi.

22/03/1836

Gempa terjadi di Mojokerto. Tidak diketahui berapa kekuatan gempa tersebut, namun skala intensitas dampak gempa mencapai VII-VIII MMI. Akibat gempa ini terjadi kerusakan pada bangunan.

20/11/1862
Gempa terjadi di Madiun dengan skala intensitas gempa mencapai VII MMI. Akibat gempa ini sejumlah bangunan retak.

15/08/1896

Gempa terjadi di Wlingi dengan skala intensitas gempa mencapai VII MMI. Gempa terasa sampai Brangah. Kerusakan pada bangunan dan rumah penduduk.

20/08/1902
Gempa terjadi di Tulungagung dengan skala intensitas gempa mencapai VII MMI. Akibat gempa terjadi kerusakan pada bangunan.

11/08/1939
Gempa terjadi di Jawa Timur dengan skala intensitas VII MMI. Getaran gempa terasa hingga Rembang, Jawa Tengah. Sebuah rumah roboh di Brondong.

19/06/1950
Gempa terjadi di Jawa Timur dengan skala intensitas gempa mencapai VI MMI.
Beberapa bangunan retak. Getaran terasa sampai Kalimantan dan Jawa Barat.

20/11/1958
Gempa terjadi di Malang dengan skala intensitas gempa mencapai VII-VIII MMI.
Akibat gempa terjadi retakan pada bangunan, tanah, dan 8 orang tewas.

19/2/1967
Gempa terjadi di Malang dengan skala intensitas gempa sebesar VII - IX MMI. Kerusakan terparah terjadi di Dampit, 1.539 rumah rusak, 14 orang tewas, 72 orang luka-luka. Di Gondanglegi 9 orang tewas, 49 orang luka-luka, 119 bangunan roboh, 402 retak, 5 masjid rusak. Di Trenggalek 33 rumah bambu retak. Getara gempa terasa hingga Banyumas dan Cilacap di Jawa Tengah.

4/10/1972
Gempa terjadi di Blitar-Trenggalek dengan kekuatan 6 skala Richter dan skala intensitas gempa sebesar V-VI MMI. Akibatnya, terjadi kerusakan sejumlah bangunan di Gandusari & Trenggalek. Goncangan terasa kuat sehingga mengakibatkan 250 orang meninggal, 127 orang hilang, 423 luka, 1.500 rumah rusak, 278 perahu rusak dan hilang. Gempa ini juga menimbulkan terjangan tsunami dengan ketinggian gelombang belasan meter dan terjangan gelombang hingga mencapai 500 meter dari pantai.

3/6/1994

Gempa terjadi di Banyuwangi dengan kekuatan gempa mencapai 7 skala Richter dan skala intensitas gempa VIII MMI. Akibat gempa menimbulkan bencana di Rajegwesi, Gerangan, Lampon, Pancer, Pulau Sempu, Grajagan, Pulau Merah, Teluk Hijau, Sukamade, Watu Ulo, Teluk Sipelori dan Teluk Tambakan. Efek tsunami mencapai pantai Banyuwangi, Jember, Malang, Blitar, Tulung Agung, Trenggalek & Pacitan.

20/7/2003
Gempa terjadi di Pacitan dengan kekuatan 5,9 skala Richter. Akibatnya terjadi kerusakan pada sejumlah bangunan dan plester dinding lepas di rumah dinas Polres Pacitan, 4 rumah di desa Pucang Sewu, 1 rumah di desa Sambong, 1 rumah di desa Ponggok, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan; 1 rumah di desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek; pasar Madiun dan sebuah Ruko di kota Yogyakarta. Getaran terasa di Pacitan, Trenggalek, Madiun, Surakarta, Yogyakarta hingga Surabaya. Terjadi gempabumi susulan.

Baca: Mengapa Indonesia Rawan Gempa

heri.susanto@vivanews.com

• VIVAnews